September 2017 - Simple Blog Easy Blog

Latest

Pokoknya, Semuanya Dikemas Secara Simple, Agar Easy untuk Dibaca....

16 September 2017

Mungkin terdengar agak aneh bagi yang masih awam, sebuah perangkat yang digunakan untuk komunikasi suara menggunakan gelombang radio FM di frekuensi 144 MHz atau frekuensi lainnya, bisa mentransfer gambar. ya, memang bisa, teknik ini sudah lama diterapkan sejak penggunaan radio amatir pada mode digital atau dikenal dengan Digimode, dimana pada mode ini, penggunaan sinyal analog dari radio pemancar, diubah menjadi data digital oleh komputer melalui pemanfaatan sinyal bunyi/suara.


Dalam penerapannya, yang dimanfaatkan adalah suara. Suara ini berasal dari sebuah software jadul (Jaman Dulu) dengan nama MMSSTV, yang pada jamannya digunakan untuk mengirim gambar menggunakan media Frekuensi radio amatir yang dikirim dari bumi ke satelit LEO (Low Earth Orbit) seperti ISS ataupun Soyuz dan sebaliknya. tujuan dari penggunaan metode ini adalah untuk mengirimkan gambar digital menggunakan frekuensi analog di frekuensi yang bervariasi.

Pemanfaatan  frekuensi ini erat kaitannya dengan Organisasi amatir radio, karena pengembangan SSTV dimulai sejak radio amatir sedang jaya-jaya nya waktu itu....tapi kalo mau dijelaskan lagi sejarahnya, malah panjang sekali, bisa-bisa poin utama dari artikel ini malah tidak dibahas...hehehe

Jika menggunakan perangkat Radio Handy Talky, maka kita wajib memiliki 2 unit radio tersebut untuk mengirim dan menerima paket transmisi. Kalo sudah punya HT nya ya tidak masalah, tapi kalo tidak punya...itu dia masalahnya...hehehe. Untuk itu bisa diakali menggunakan Handphone, baik versi Komunikater maupun yang sudah sangat canggih seperti android (Komunikater = Komunikasi dan Senter / HP yang hanya digunakan untuk menelepon, SMS dan senter)


Baiklah, untuk langkah awal (dalam praktek sederhana nya dulu) kita bisa menyiapkan beberapa peralatan sebagai berikut :
  1. 2 buah Handy Talky untuk komunikasi (yang bisa diganti dengan Handphone, jangan lupa pulsa nya)
  2. 2 unit komputer (sebagai pengirim pesan dan penerima pesan)
  3. 1 buah Microphone, namun jika sudah built-in di komputernya, bisa gunakan yang sudah ada saja
  4. 1 unit speaker portable, tidak harus yang kualitasnya dewa, yang penting bisa bunyi dan bisa dihubungkan di komputer
  5. Software MMSSTV bisa disedot disini atau bisa search di Google, tenang, ukuran file installernya hanya sekitar 2 megabyte
  6. Suasana yang tenang dan damai.....hehehe
Sebenarnya jika menggunakan HT, pada point 3 dan 4 bisa diganti dengan kabel audio untuk dihubungkan antara komputer dan radio. di satu sisi dihubungkan ke Speaker Output komputer, di sisi lainnya dihubungkan ke Mic atau Line Input komputer, maka suara yang dihasilkan nantinya tidak akan terganggu oleh kebisingan di sekitarnya.

Berikut skema pemasangan nya :

Pada Komputer pengirim, sambungan output speaker dihubungkan ke port mic pada HT, dan pada komputer penerima, output dari HT dihubungkan ke port Mic/Line In pada komputer.
Jika menggunakan Handphone, pada komputer pengirim dipasangkan speaker untuk didekatkan dengan microphone pada handphone, dan pada komputer penerima, speaker Handphone didekatkan ke Microphone komputer (dalam hal ini, handphone penerima mengaktifkan mode speaker)

Berikutnya install software MMSSTV pada kedua komputer, bisa disedot disini

Pastikan volume speaker diset pada level menengah (disesuaikan, jangan sampai over)
setelah install, kemudian jalankan aplikasinya, berikut tampilan aplikasi nya



pada komputer pengirim, pilih Tab TX yang artinya Transmit (mengirim)
pada komputer penerima pilih Tab RX yang artinya receive (menerima)

sebelum beralih ke komputer, pastikan dulu HT yang digunakan sudah berada pada frekuensi kerja yang sama.

Pada Komputer Penerima

  1. Klik Tab RX
  2. Atur RX Mode ke Auto atau bisa langsung memilih mode RX nya dalam hal ini Scottie 1
  3. Cek level Volume input Mic dan pastikan sudah On serta tidak Over
  4. hubungkan input mic pada output HT
  5. Standby pada frekuensi yang sudah disepakati
  6. Jika menggunakan Handphone, cukup menunggu panggilan masuk untuk dialihkan ke mode speakerphone

Pada komputer pengirim, 

perhatikan gambar berikut

  1. klik Tab TX
  2. pilih jenis transmisi (TX Mode) Scottie 1 (silahkan dicoba-coba menggunakan mode yang lain)
  3. manfaatkan template yang tersedia, penjelasan tombol edit gambarnya coba-coba sendiri saja
    untuk memasukkan gambar, klik kanan pada kotak putih yang besar kemudian pilih Load from file...
    Load From File
    Lanjutkan dengan memilih file gambar yang diinginkan
  4. Jika sudah terhubung dengan HT, tekan tombol PTT untuk mulai mentransmit sinyal, berikutnya klik tombol TX unutk mulai melakukan transmisi.
selama proses transfer gambar (sekitar 40 detik sampai beberapa menit) jangan lepas tombol PTT pada HT atau jangan mematikan panggilan telepon jika menggunakan Handphone.

perlahan-lahan gambar akan terbentuk pada komputer penerima, biarkan prosesnya sampai selesai dan hasilnya bisa disimpan ke komputer penerima
berikut gambar sebelum, proses dan sesudah ditransfer

Sebelum ditransfer (di Komputer pengirim)
Proses selesai (di komputer penerima)
Hasil transfer gambar
Hasil gambarnya memang tidak begitu memuaskan karena hanya berukuran 320 x 256 pixel, tapi cukup seru jika proses transfer nya di jarak yang jauh, karena tidak memerlukan paket data (kecuali pulsa telepon kalo menggunakan telepon). Lagipula, ini adalah software yang direlease pada tahun 2001, yang sebelumnya juga sudah ada software lain yang fungsi nya hampir sama dengan software ini.

Menurut saya ini seru daripada berkirim gambar menggunakan Bluetooth, ShareIt, maupun software sejenis yang sudah teramat sangat Mainstream....dan tidak semua orang mengetahui teknik ini...yang artinya kita memiliki sebuah pengetahuan unik yang tidak dimiliki oleh kebanyakan orang...hehehe

sekian dulu artikel ini, kalo ada manfaatnya, silahkan bagikan, tapi ingat, penulisnya sudah capek-capek ngetik, jadi selalu sertakan sumber nya, hasrul.web.id. kalo ada yang kurang atau tidak jelas, silahkan komentar di bawah.

15 September 2017

Jika pada artikel sebelumnya (http://www.hasrul.web.id/2017/09/teknik-subnetting-ip-address-yang.html) membahas tentang perhitungan subnetting kelas C, maka pada artikel ini akan membahas perhitungan lanjutan yaitu subneting IP kelas B.

Pada dasarnya perhitungan subneting kelas C dan B hampir sama, hanya saja pada kelas B, bagian yang perlu diperhatikan adalah pada oktet ketiga. Sedangkan pada oktet ke 4 range nya dimulai dari 0 dan diakhiri dengan 255.


perhatikan tabel subnetting berikut :



Prefix / CIDR
Subnet Mask
Jumlah IP
Jumlah Host (Jumlah IP -2)
/16
255.255.0.0
65.536
65.534
/17
255.255.128.0
32.768
32.766
/18
255.255.192.0
16.384
16.382
/19
255.255.224.0
8.192
8.190
/20
255.255.240.0
4.096
4.094
/21
255.255.248.0
2.048
2.046
/22
255.255.252.0
1.024
1.022
/23
255.255.254.0
512
510

untuk penjelasan CIDR dan Subnet mask, bisa dibaca kembali pada artikel sebelumnya di disini.
jika pada subnetting kelas C jumlah IP maksimal adalah 256 IP, maka di kelas B yaitu 256x256 = 65.536 IP. jumlah yang lumayan banyak untuk pemberian IP ke host nantinya.

agar dapat menghitung subneting kelas B, perlu diperhatikan petunjuk berikut :
  1. IP Kelas B pada oktet 4 nya dimulai dari 0 dan diakhiri dengan 255
  2. CIDR pada IP Kelas B dimulai dari /16 sampai /23
  3. agar dapat menghitung subnetting IP kelas B, maka perlu dikonversi dahulu ke IP kelas C unutk memudahkan perhitungan.
  4. Range IP kelas B diimplementasikan pada oktet ke tiga dalam penulisan IP 
Berikut contoh perhitungan IP kelas B :
Tentukan jumlah IP, IP Host, Network ID, Broadcast ID, Subnet Mask dari IP address 17.17.114.20/21

Jawab :
langkah pertama yaitu melihat CIDR dari IP yang diberikan. dalam hal ini /21.
/21 ini kemudian dikonversi ke IP kelas C (imajiner) dengan cara menambahkan CIDR dengan angka 8
maka hasilnya /29

CIDR /29 pada kelas C, jumlah IP nya adalah 8 (cara perhitungannya disini)

Jadi jumlah IP nya 8x256 = 2.048 IP

IP Host sudah jelas, yaitu 2.048-2 = 2.046

untuk network ID dan Broadcast ID,  kita gunakan patokan hasil konversi kelas C diatas, yaitu 8 dan menghitungnya menggunakan Oktet ke 3 dari IP yang ada
--> 114 : 8 = 14,25 (abaikan angka dibelakang koma)
--> 14 x 8 = 112  (persiapan Network ID)

untuk menghitung Broadcast ID dengan cara sebagai berikut
Network ID +  (Jumlah IP kelas C imajiner - 1)
112 + (8-1) = 119 (persiapan Broadcast ID)


dari hasil diatas dapat disimpulkan bahwa :
Network ID dari IP 17.17.114.20/21 yaitu 17.17.112.0
Broadcast ID dari IP 17.17.114.20/21 yaitu 17.17.119.255

bagian terakhir yaitu subnet mask
sama seperti perhitungan pada IP kelas C yaitu 256-8 = 248
maka penulisan subnet mask nya adalah 255.255.248.0

Beres....lebih cepat selesainya...
Pada prinsipnya, sama saja dengan IP kelas C, hanya posisinya saja bergeser ke oktet ketiga dan jumlah IP dikali dengan 256
mudah-mudahan membantu, jika kurang jelas, silahkan ditanyakan, komentar tersedia dibawah...

06 September 2017



Pada kesempatan kali ini, saya ingin share tentang bagaimana cara menghitung subnetting pada IP Address ver.4 atau yang biasa disebut IPv4. Teknik subnetting ini berguna untuk memetakan jaringan yang akan dibangun, sehingga manajemen pengguna bisa diatur, serta dapat meminimalisir kebocoran data dalam jaringan.

Teknik Subnetting kali ini menggunakan teknik subnetting versi pesantren IDN di Jonggol, Jawa Barat, selain mudah dipahami, cara perhitungannya pun cepat (Terima Kasih kepada pak Dedi Gunawan atas Ilmu nya).
Sebelum lanjut ke pembahasan Subnetting, perlu kiranya mengetahui beberapa istilah dalam Subnetting sebagai berikut :

Network ID

Network ID atau Network Address adalah alamat IP yang dialokasikan khusus untuk mewakili sekumpulan host/komputer dalam satu network/jaringan. Fungsinya yaitu untuk menandai sebuah jaringan agar dapat dibedakan dengan jaringan lainnya. Network ID biasanya berada pada bagian paling awal dari sebuah range IP

Broadcast ID

Broadcast ID atau Broadcast Address adalah alamat IP yang digunakan untuk mengirimkan paket ke semua host di sebuah jaringan atau network.

Jika pada Network address digunakan untuk mengirimkan paket data ke network lainnya, maka pada broadcast address digunakan untuk mengirimkan paket data hanya pada network nya saja, tidak di network lain.


Subnet Mask

Subnet Mask adalah Bagian dari IP Address yang menggambarkan jumlah host di tiap network. Contoh penulisan subnet mask yaitu  255.255.255.0. yang perlu diperhatikan pada subnet mask (untuk kelas C) adalah pada nilai terakhir yaitu angka 0. Angka ini mewakili delapan angka biner yang bernilai 00000000 sehingga jumlah host pada jaringan adalah sehingga 2^8=256 host. Angka 2 digunakan karena angka 00000000 dalam bentuk biner.


Classless Inter-Domain Routing (CIDR)

CIDR adalah penyederhanaan dari penulisan subnet mask yang panjang. Penulisan CIDR ini berdasarkan pada angka biner yang terbentuk dari penulisan subnet mask, contoh subnet mask kelas C :
255.255.255.0
Dalam biner menjadi 11111111.11111111.11111111.00000000

Dari hasil konversi bilangan biner diatas, terlihat bahwa terdapat 24 angka 1, sehingga CIDR yang digunakan adalah /24. Jadi pada penulisan IP biasanya ditulis seperti ini, contoh : 192.168.10.1/24


Apa itu subnetting ??

Subnetting adalah cara memecah network menjadi beberapa sub-network yang lebih kecil. Jika dianalogikan seperti sebuah komplek perumahan, jika tanpa melakukan subnetting dalam hal ini membiarkan setting jaringan secara default, maka sama hal nya seperti gambar berikut :

Tanpa Subnetting
Seandainya Ketua RT (baca:server) ingin menyampaikan informasi ke rumah-rumah, maka Ketua RT harus menyampaikannya lewat jalan tersebut, sehingga jika terdapat lebih dari 100 rumah, maka ketua RT harus menyampaikan satu per satu ke rumah-rumah tersebut. Hal ini akan menyulitkan bagi Ketua RT.


Untuk itu perlu dibuat pembagian-pembagian gang (subnetting) agar ketua RT (mungkin sudah berubah menjadi Ketua RW) tidak kesulitan menyampaikan informasi karena hanya disampaikan ke ketua lingkungan di tiap-tiap gang, ketua lingkungan tiap tiap gang lah yang akan menyampaikan informasi ke rumah-rumah warga. Berikut ilustrasi nya:
Dengan Subnetting
Dengan cara ini, warga di gang 1 dan gang 2 tidak akan dapat saling berkomunikasi kecuali atas ijin dari ketua lingkungan dalam hal ini RT di setiap gang. Dalam implementasinya di jaringan, teknik ini akan membuat komputer-komputer yang berada dalam 1 network tidak akan bisa berkomunikasi dengan komputer di network lainnya, meskipun berada di satu segmen IP sehingga jika ada data yang dikirim dalam 1 network, maka network lainnya tidak terganggu. Kekurangan dari cara ini adalah jumlah IP yang digunakan akan berkurang, karena di tiap network wajib memiliki Network ID dan Broadcast ID.

Cara menghitung subnetting kelas C

Perhatikan tabel berikut :

Prefix / CIDR
Subnet Mask
Jumlah IP
Jumlah Host
(Juml.IP - 2)
/24
255.255.255.0
256
254
/25
255.255.255.128
128
126
/26
255.255.255.192
64
62
/27
255.255.255.224
32
30
/28
255.255.255.240
16
14
/29
255.255.255.248
8
6
/30
255.255.255.252
4
2
/31
255.255.255.254
2
-
/32
255.255.255.255
1
-

Hal pertama yang perlu diingat, pada IP kelas C, range IP maksimal yang bisa dipakai adalah 256 IP dan CIDR nya adalah /24. Langkah berikutnya adalah, pada /32, range IP maksimal nya 1 IP, kemudian di tengah dari CIDR tersebut adalah /28 yang jumlah IP nya adalah 16 IP. Untuk /28 ini biar gampang diingat, yaitu 2x8 = 16 jadi CIDR /28 memiliki jumlah IP 16.

Jika CIDR nya berubah dari /28 ke /29 (turun ke bawah), maka jumlah IP nya akan berkurang 2 kali, jika CIDR nya berubah dari /28 ke /27 (naik ke atas), maka jumlah IP nya bertambah 2 kali. Dan seterusnya di kali maupun dibagi dua setiap kali turun ataupun naik. Sehingga pencarian jumlah IP bisa lebih mudah tanpa perlu menghitung dengan rumus yang rumit

Contoh : Tentukan Range IP, IP Host, Network ID, Broadcast ID, dan Subnet Mask dari IP 14.140.140.26/29

Jawab :

Dari IP diatas kita langsung dapat mengetahui jumlah IP dari network tersebut, dengan patokan /28 adalah 16, maka /29 jumlah IP nya 8.
Jumlah IP : 8

Range : angka di segmen terakhir dari IP : jumlah IP = 26:8=3,25.

Abaikan yang berada di belakang koma, maka yang perlu diperhatikan adalah angka 3, berikutnya kalikan angka 3 dengan angka 8 (Jumlah IP)
3*8 = 24

Dari angka tersebut diatas bernilai 24, artinya angka awal dari range IP adalah 24, jadi IP awal adalah 14.140.140.24

Selanjutnya untuk range terakhir dari IP, sebagai berikut
24+(8-1)= 31

Angka 31 menjadi angka terakhir dari range IP, maka penulisannya adalah 14.140.140.31

Jadi range IP nya adalah 14.140.140.24 – 14.140.140.31

Dari range IP tersebut, sudah dapat diketahui network ID dan broadcast ID nya.
Network ID adalah 14.140.140.24
Broadcast ID adalah 14.140.140.31

Kemudian IP Host adalah IP di antara network ID dan Broadcast ID tadi, maka dapat disimpulkan sebagai berikut :
IP Host : 14.140.140.25 - 14.140.140.30

Untuk mencari Subnet Mask, sebagai berikut :
256-8 = 248
Maka subnet mask nya adalah 255.255.255.248

Beres deh...

Menurut anda, ini ribet atau mudah ??

Menurut saya mudah, hanya penjelasannya saja yang mungkin panjang lebar...maksudnya hanya agar lebih mudah dipahami, seperti judul dari blog ini Simple and Easy, Pokoknya semua dikemas secara simpe, agar easy untuk dibaca...
Artikel berikutnya nanti jika sempat, akan dilanjutkan dengan pembahasan pada Subnetting IP kelas B.
jika ada yang kurang, mohon masukannya